
PASAMAN – Di tengah naik-turunnya harga hasil perkebunan dan terbatasnya lapangan kerja di desa, pemuda Tigo Nagari menawarkan jalan keluar: menjadikan lidi sawit sebagai sumber penghasilan baru yang berkelanjutan. Melalui kerja sama langsung dengan eksportir nasional, potensi ini mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Anhari dan Siboy, dua pemuda pelopor usaha tersebut, melihat peluang besar dari limbah sawit yang sebelumnya diabaikan. Bekerja sama dengan eksportir dari Medan, mereka kini menyalurkan lidi sawit kering ke pasar internasional.
“Ini bukan sekadar bisnis, tapi langkah awal menuju ekonomi nagari yang mandiri. Kita punya bahan baku, tinggal kemauan untuk mengelola,” ujar Anhari.
Usaha ini tidak hanya menyasar keuntungan pribadi, tapi juga membuka lapangan kerja bagi pemuda lain di Tigo Nagari. Proses pengumpulan, pengeringan, melibatkan warga secara langsung. Mereka juga berharap potensi nagari dapat didukung oleh pemerintah nagari dan petani untuk meningkatkan skala produksi.
Kepala Jorong setempat menyampaikan bahwa gerakan ini bisa menjadi salah satu tulang punggung ketahanan ekonomi nagari jika dikelola bersama. “Bayangkan kalau semua jorong bergerak, Tigo Nagari bisa jadi sentra lidi sawit Sumatera Barat,” ungkapnya.
Lewat semangat gotong royong dan inovasi, lidi sawit kini bukan hanya sampah kebun, tetapi simbol harapan baru bagi masa depan ekonomi desa. Warga didorong untuk turut terlibat dan melihat langsung bahwa masa depan bisa dibangun dari hasil bumi sendiri.
Wartawan : Eky Afriady


